Kamis, 17 Agustus 2017

Ericsson Smartnovation Hackathon 2017

Di penghujung semester 4 yang ceria, gua mengikuti sebuah lomba yang diselenggarakan sama Ericsson. Kebetulan tertarik buat ikut lomba itu karena tertarik sama topiknya juga tertarik buat nginep gratis. Akhirnya setim sama 4 anak dari jurusan yang berbeda semua, ada yang dari IF, dari EL, dari ET, dan ada juga dari Power. Pengennya sih IF sama STI semua, cuma kata dekan lebih baik disebar.

Sebelum lomba, profiling calon-calon lawan dulu. Iseng nanya Lele, temen yang menang LINE bot competition April 2017 kemaren, eh ternyata dia ikut juga. Akhirnya ketemu Lele yak -__-.

Yang lain udah mulai ngerjain-ngerjain, kita baru bikin idenya H-1 keberangkatan. Idenya sih, bikin aplikasi yang bisa memprediksi kerusakan komponen, berupa komponen apa aja yang rusak, tanggal service terakhir, harga, jenis, dll. Lengkap dah pokoknya.

Gimana sih mekanisme kerjanya?

Jadi, di dalam kendaraan bakal ditanam sebuah sensor yang bakal ngedeteksi kondisi dari setiap komponen yang ada di kendaraan tersebut. Nah, data tersebut juga dicocokin sama tanggal terakhir service, sehingga bisa didapat estimasi kapan harus ganti kedepannya.

Data yang dicapture, berupa data kondisi, dimasukin ke dalam basis data komponen. Terus, dari situ dikasih tau ke pengguna kondisinya sekarang kayak gimana, terus ngasih notifikasi kalo emang waktunya harus ganti.

Terus, kalo udah waktunya ganti, bakal ditampilin komponen apa aja yang harus ganti berikut dengan tempat-tempat service yang bisa ngeganti dan harga komponennya. Sebenernya nggak cuma berlaku buat komponen mobil atau motor aja, berlaku juga buat ganti oli atau isi bensin di kendaraan.

Awalnya target utamanya itu perusahaan-perusahaan transportasi sama logistik, karena pengalaman pribadi kalo ada bus atau truk mogok, di belakangnya bisa macet berkilo-kilo (ini pengalaman selama di jalan dari Bandung ke Jakarta juga). Dari situ, ditarik kesimpulan kalo perusahaan-perusahaan butuh banget, terus buat estimasi pengeluaran per bulannya dari ganti komponen (terutama buat bus Damri yang keluarin asap kayak cerobong pabrik gara-gara gak pernah diganti). Dari situ bisa ketauan juga kalo sopirnya nilep, atau jujur.

Ke depannya, bisa juga ditambahin fitur planning harus ganti kapan aja, sama predictive buat kapan aja harus ganti kalo belinya ke toko X atau ke toko Y (antisipasi ada barang KW dll).

Balik lagi ke topik, pengalaman sebelum hari-H nginep di hotel Sofyan, di jalan Cut Meutia daerah Menteng. Nyampe sana dikasih jus jeruk yang terasa seger banget soalnya Jakarta panas. Setelah dapat kunci kamar, awalnya pengen ke kamar yang di lantai 5 naik lift. Pas mencet di lift lantai 5 ternyata ga bisa. Dikiranya kartunya ga aktif, eh ternyata lift cuma nyampe lantai 4. Padahal udah capek-capek jalan naik tangga dari lantai 1 sampe lantai 5.

Habis itu terasa lapar dan ternyata lupa bawa sensodyne, jadi ke indomaret Menteng Huis buat beli sensodyne doang. Habis itu beli sate di deket hotel, taunya mahal. 30 ribu isi 10 tusuk doang. Udah itu rasanya ga terlalu enak juga sih.

Sambil makan, ternyata tim sudah menunggu depan kamar. Kami mulai fiksasi ide dan dikit-dikit ngoding. Dan juga harus sambil nginstall Android Studio gara-gara belum install.

Ke hari H.

Ga bisa tidur gara-gara kebiasaan ga bisa tidur di saat-saat tegang. Jam 5 mandi, habis itu langsung ke lantai 1 buat sarapan. Jadi tim pertama yang full team pas sarapan. Habis itu langsung beres-beres buat ke Pullman Hotel, naik Bluebird.

Masuk Pullman Hotel, harus nunggu 2 jam sebelum dimulai. Itupun ada sambutan-sambutan lagi. Terus orang teknikalnya orang China dan bahasa Inggris dia ga terlalu fasih. Akhirnya kalo nanya harus di-repeat atau dikit-dikit nanya pake bahasa China (harus buka GTranslate juga kadang-kadang wkwk).

Setelah lomba mulai, langsung bikin desainnya. 2 jam kelar. Karena di bagian front-end, bisa-bisa aja sih ngerjainnya. Mana internet kenceng banget lagi, streaming lagu enak banget. Habis itu mulai ngoding, mulai kesulitan, dapat makan. Ada sesi makan siang. Semuanya langsung keluar. Gua ngambil makan lumayan banyak, dessertnya paling banyak sih. Pas mau ke ruangan, eh disapa sama Lele. Lama lagi kan -_-.

Sekitar jam 4, mulai stuck lagi. Androidnya bermasalah, jadi udah sekitar 7000 line of Code yang Front-End, eh malah gagal compile. Mau minta bantuan, teman-teman yang mainin API belum sukses. Akhirnya bantuin yang bikin web-basednya sekaligus bikin PPT buat presentasi.

Sekitar jam 11, gua ketiduran di kamar. Bangun-bangun jam 2, udah di studio lagi. Mana di sebelah gua si cewe entah lagi ngoding atau lagi tidur (kaget dong). Kaget, langsung tidur lagi. Sekitar jam 2.30, kebangun, ke meja tim langsung ngerjain kerjaan yang pada belum kelar. Mayan sampe subuh udah bisa bikin basdatnya sama nyelesain sekitar 1500-2000 Line of Code tambahan dan presentasi kelar.

Habis deadline, semuanya mandi di kamar, habis itu persiapan presentasi. Nontonin Deo yang persiapan presentasi, karena waktunya singkat banget pasti ga sempet. Dapet giliran no 5, yang ternyata ga hoki-hoki amat. Terus gugup pas nungguin tim sebelah presentasi.

Pas pengumuman, ternyata gagal. Terus masuk ke ballroom buat sesi bersama Pak Menkominfo Rudiantara dan Kerajaan Swedia. Ternyata disana ada pengumuman juaranya. Kebetulan banget tim sebelah (kating) menang. Waah selamat!

Habis acara selesai, langsung ke GI buat makan enak, terus ke Depok mau ke tempat temen. Kebetulan banget, ada acara XL di Elektro UI, narasumbernya bagus.

Sekian pengalaman yang tidak menarik ini!

Foto peserta bersama King Carl XVI Gustaf dan Menkominfo Rudiantara

Foto bersama Pak Dekan

Bersama fans gua Lele

Minggu, 09 Juli 2017

Catatan Semester 4 di STI ITB (Part 1)

Halo semua pembaca! Setelah mengarungi semester 4 yang lumayan bahagia, saatnya gua bakal menceritakan semua pengalaman gue selama semester 4 ini, mulai dari mata kuliah, kegiatan-kegiatan, dan lain-lainnya.

Kita mulai saja dari mata kuliah yang Gua ambil. Gua total mengambil 8 mata kuliah (7 matkul wajib, 1 ambil pas PRS, 1 ambil FRS terus drop), totalnya 22 SKS.

1. Agama dan Etika Islam (2 SKS. Dosen : Pak Yedi Purwanto)
Mata kuliah favorit gue semester ini. Selain 2 SKS nyaris Auto A, dapet pembekalan keimanan dulu di awal semester (ikutan ITBSC). Kalo belum tau ITBSC, ITBSC itu semacam mabit untuk anak-anak yang mengambil mata kuliah Agama dan Etika Islam. Di ITBSC isinya materi-materi, motivasi, nginep di salman, hafalan quran, solat malem (kalo nggak cabut), sama mentoring dan tentunya makan gratis selama 2 hari.

Kelas AEI gue K-16, yang kebetulan Pak Yedi harus ngajar di 2 kelas bersamaan dalam satu waktu. Jadi, beberapa kali ikut kelas gabungan, dan sering banget kelas cuma setengah jam (YEAY!). Cuma tugas besarnya agak berat, yaitu membuat makalah mengenai fiqih kontemporer, dan sayangnya sumber gue nggak ada sama sekali, cuma skripsinya anak UIN itupun penulisannya kacau banget.

UTS dan UASnya lumayan mudah, masih ditanya soal pendapat dan boleh open Al Quran.

2. Sistem dan Arsitektur Komputer (3 SKS. Dosen : Pak Albarda)
Mata kuliah Sistem dan Arsitektur Komputer cukup membuat gue memutar otak lebih banyak untuk ngerjain soalnya. Soal-soal ujian yang diberikan beda sama buku yang gue punya dan berbeda dengan berbeda dengan yang diajarkan. Doakan UP gue sukses ya!

3. Object Oriented Programming (3 SKS. Dosen : Pak Riza)
Mata kuliah OOP kalo boleh dibilang matkul programming paling berat yang pernah gue pegang. Karena paradigmanya beda sama yang biasa gue pelajarin dan bahasa Java emang susah. Jadilah nilai nggak bagus-bagus amat, dan sayangnya pas UAS gue lupa ngerjain soal tahun sebelumnya padahal soalnya mirip.

4. Jaringan Komputer (3 SKS. Dosen : Pak Baskara)
Mata kuliah Jaringan Komputer termasuk mata kuliah yang gampang-gampang susah. Kalo merhatiin harusnya bisa nilai bagus, sayangnya gue malah makan tiap kelas. UTS full hafalan, sementara UAS analisis. UTS gue ancur, UAS masih bisa ketolong kayaknya gara-gara sistem open book (thanks Luthfi buat pinjeman WiFinya!). Overall, UAS menurut gue emang lebih mudah, karena lebih ke praktikal dibanding teoritis, dan gue lebih menguasai materi UAS (Network dan Data Link layer, Multimedia System) dibandingkan dengan UTS.

5. Manajemen Sumber Daya STI (3 SKS. Dosen : Pak Rila)
No comment soal matkul ini. UTS gue ancur, dapet 20. UAS kayaknya masih ketolong (gue bisa semua dan gue cek pada bener sih, padahal nggak belajar hehe). Tubes lumayan gampang, tapi sering revisi gara-gara kelompok gue males revisi.

Jadi, tubesnya itu disuruh menentukan Arsitektur IT yang tepat untuk suatu organisasi. Kebetulan kami mengambil di Dancing Crab Indonesia. Restoran mahal loh, cek aja. Nah dari tugas itu dibagi 4 dokumen, yaitu informasi perusahaan, analisis arsitektur yang mungkin, analisis internal dan implementasi, lalu analisis risiko implementasi. Yang paling susah dokumen 3, revisinya gila-gilaan. Dokumen 4 yang spesialisasi gue, hampir gaada revisi.

Habis ngerjain tubes, langsung presentasi depan asisten. Kata asisten sih, penampilan kami overall keren banget, slidenya bagus banget (gue bikinnya lama banget sih, hampir 3 jam sendiri).

Meskipun tugas berat, UTS hancur, nilainya Voila!

6. Manajemen Proyek STI (3 SKS. Dosen : Pak Mary)
Kuliah manajemen proyek STI diajarkan mengenai teori-teori dan best practice dalam melakukan manajemen proyek, khususnya proyek terkait IT. Adapun proyek IT bisa dibilang beda dari proyek lainnya karena scope dari proyek IT beda banget, bisa berubah-ubah karena susah definisiinnya. Ini kayaknya yang bikin proyek e-KTP molor terus.

Di matkul ini, UTS dan UAS soalnya unpredictable. Harus persis banget sama guideline dari PMBOK. Tapi kalo hafal, gampang sih. Cuma UAS ada yang diluar PMBOK, lebih ke pengetahuan umum. Kalo tubesnya, bikin dokumen manajemen proyek IT. Gampang-gampang susah sih, tapi bisa dikerjain dalam sehari kok (pengalaman pribadi).

Nilainya sesuai usaha buat dapetinnya sih, tapi gue alhamdulillah aja.

7. Analisis Kebutuhan Sistem (3 SKS. Dosen : Pak Dicky)
Matkul AKS matkul paling enak semester ini. Cara mengajar bapaknya enak, terus tubesnya berguna banget buat belajar di semester ini.

Jadi tubesnya disuruh bikin analisis terhadap sistem IT di sebuah perusahaan, lalu dibikin prototype buat masalah tersebut. Gue ambil di salah satu Cafe di Braga, Bandung. Lalu kami bikin Online Transaction Processing System. Itu kayak gimana sih? Intinya, semacam bikin pemrosesan transaksi yang bisa diakses secara online oleh pegawai-pegawai. Kita gunain bahasa Python dalam bikin programnya. Sayangnya, karena butuh server, implementasi nggak sampai selesai.

8. Komunikasi Pembangunan (2 SKS)
Katanya sih matkul cimpi-cimpi, taunya nggak. Masuk kelas, gue sama hans dipanggil pake sebutan Xiao Didi sama dosennya. Terus kalo cewe chinese dipanggilnya Xiao Meimei. Nggak dapet ilmu selama 3 minggu, akhirnya gue drop matkul ini.

9. Perencanaan dan Politik (2 SKS)
Cimpi-cimpi sih, cuma nggak A. UTSnya ngedengerin kuliah umum dari Pak Bambang Harimurti (dari Tempo), UASnya bikin video semacam vlog isinya review kuliah selama 1 semester.

Sekian ulasan kuliah semester 4 ini, kalo mau nanya-nanya template presentasi bisa banget di komentar atau ke email gue aja (yang ini fast response) : 18215044@std.stei.itb.ac.id

Jumat, 30 Desember 2016

Semester 3 di STI ITB

Setelah melalui TPB yang sangat indah, akhirnya saya memasuki masa penjurusan. Sesuai dengan pilihan saya sejak awal masuk kuliah, akhirnya saya pun dijuruskan ke Sistem dan Teknologi Informasi. Banyak yang ngira (bahkan sampe sekarang), kalo saya anak IF tetangganya sih mungkin. Mungkin karena banyak yang belum tau bedanya STI dengan IF, yang bakal saya jelasin dibawah ini.

Apa sih bedanya STI sama IF?
STI itu Sistem dan Teknologi Informasi, sementara IF itu Teknik Informatika. Dari fokusnya, IF lebih ke arah software engineering, sedangkan STI lebih ke arah menguasai semua keilmuan yang ada di STEI, ditambah menguatkan aspek bisnis dan manajemennya. Kalo beberapa temen yang setelah dijelasin gitu, bilangnya kayak MRI kalo di FTI.

Setelah jelasin secara singkat bedanya STI sama IF, kembali ke topik, saya mau ceritain juga semester 3 yang sangat indah ini.

Osjur
Sebagai anak STI, saya harus ikut osjur, yang karena STI dan IF sehimpunan di HMIF otomatis dong harus ikut SPARTA HMIF 2015. Kegiatan SPARTA HMIF itu sendiri diadain pas liburan semester 2, dari 3 hari setelah pengumuman penjurusan, sampe 2 minggu setelah masuk. Isi kegiatannya berupa materi-materi yang berguna saat kehidupan kuliah, dan materi tentang HMIF itu sendiri. Cukup senang sih ikut SPARTA HMIF 2015, dan berminat jadi ketua SPARTA 2016.

Mata Kuliah
Setelah bahas soal GLE, sekarang saatnya bahas kuliah di semester 3 di Sistem dan Teknologi Informasi ITB. Kuliah semester 3 ini masih santai sih, cuma kalo terlalu santai bakal kepleset. Di semester ini, saya mengambil 22 sks, dengan 8 matkul.
1. Matematika STI (Dosen : Pak Baskara)
Belajar Matematika STI dengan Pak Bas cukup menyenangkan. Karena Pak Bas sangat suka menguji mahasiswanya dengan Algoritma, dan soal-soalnya cukup memusingkan, terutama soal UAS yang Huffman Code dimana 1 nomor itu saya kerjakan dalam waktu 1,5 jam, dan jawabannya beda sama semua orang (kecuali Winaldo).

2. Probabilitas & Statistik (Dosen : Pak Dimitri Mahayana)
Belajar probstat dengan Pak Dim, beliau hanya mengajarkan konsep-konsepnya saja. Selebihnya, lebih ke arah latihan, dan dengan soal-soal yang berdasarkan real data, kasus-kasus yang sering Pak Dim temui di perusahaan atau proyek yang dikerjakannya. Kuliahnya santai, responsinya lebih santai. Responsinya sabtu jam 8-11, dapet makan pula.

3. Basis Data (Dosen : Pak Adi Mulyanto)
Kuliah ini menekankan buat efisiensi penggunaan basis data, dengan cara normalisasi, atau skema lainnya. Sayangnya, saya agak lemah di bagian teorinya, namun bisa ditambal di bagian Query dan Normalisasi. Untuk tubesnya sendiri, kami membuat sistem basis data rumah sakit.

4. Algoritma & Struktur Data (Dosen : Pak Riza)
Kuliah ini mengenai struktur data, seperti Stack, Queue, List, dan Binary Tree. Pak Riza sendiri sangat baik dalam mengajar, dan sering bercerita tentang pengalamannya. Untuk tubesnya sendiri, kami membuat game Pokemon Moonstone.
Foto kelas STI di kelas terakhir IF2111 bersama Pak Riza


5. Sistem Digital & Mikroprosesor (Dosen : Pak Yusuf)
Kuliah ini mempelajari tentang sistem digital (sebelum UTS) dan sistem mikroprosesor (setelah UTS). Ada praktikumnya juga bersama anak Power (anak STI ngoding, anak Power merangkai). Tubesnya adalah proyek mikroprosesor, saya sendiri bersama Dhika membuat parking sensor dengan Arduino, memanfaatkan Ultrasonic Sensor.

6. Organisasi dan Manajemen Perusahaan Industri (Dosen : Bu Hasrini Sari)
Kuliah OMPI ini adalah satu-satunya kuliah Teknik Industri yang saya ambil di semester ini (bahkan mungkin selama saya kuliah). Materi kuliahnya tentang teori manajemen, lingkungan, perencanaan, dan strategi persaingan. Sayangnya, kuis selalu diadakan mendadak, sehingga kami tidak siap (nilai kepala 4 sudah syukur kok). UTS juga cukup mengejutkan. Namun, nilai tugas dan tubes bisa menambal kok. Tubes kami membuat analisis perusahaan industri, kebetulan kelompok saya (Saya, Priska, Haniya, Devana), membuat analisis perusahaan P&G (kalau mau liat, bisa kontak saya kok).

7. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Dosen : Bu Prima Roza)
Kuliah KWN sangat menyenangkan menurut saya, terutama dengan dosen seperti bu Prima. Beliau selalu mengaitkan topik yang sedang dipelajari dengan isu-isu terkini, sehingga membuat kami paham materi yang diajarkan. Topik yang diajarkan juga menarik, salah satunya Kewarganegaraan, dan Geopolitik Indonesia. Ujiannya juga tidak ada tentang pasal-pasal seperti di SMA.

8. Pengetahuan Lingkungan (2 dosen).
Kuliah Pengling juga mungkin satu-satunya kuliah Biologi yang saya ambil selama saya di ITB. Karena soal-soal ujiannya sangat sulit menurut saya, dan tugas-tugas yang diberikan cukup menguras energi saya.

KASTI 2016
Sebagai anak baru di STI, angkatan 2015 harus membuat gathering untuk semua angkatan STI yang masih di ITB. Nah kami sendiri membuat Kumpul Asik STI, atau disebut KASTI. KASTI ini sendiri bertempat di Koloni, di Jalan Ciumbuleuit. Kebetulan, disana saya sebagai kadiv Acara, sekaligus mc dadakan, karena nggak dapet sampe 1 jam sebelum acara. Acaranya sukses, bisa meriah dengan persiapan yang cukup.
Dokumentasi KASTI 2016


Integrasi 2016
Setelah tahun kemaren jadi peserta OSKM, saya mau balas dendam jadi panitia OSKM, yang tahun ini berganti nama menjadi Integrasi 2016. Sebelum jadi panitia Integrasi, saya sendiri ikutan Dikpus / Diklat Terpusat.
Di dikpus itu sendiri, materinya semacam pengulangan materi OSKM, ditambah materi tentang kepanitiaan yang ada di Integrasi 2016 nanti dan nilai yang mau dibawa di Integrasi. Sayangnya di dikpus ini nggak terlalu banyak yang bisa saya dapat, selain nyoba-nyoba jadi moderator diskusi aja.
Di Integrasi 2016 ini, saya masuk divisi Event Organizer. Kebetulan, jadi sersan di Resimen 4, yang ngurusin soal mentoring identitas mahasiswa. Karena kerjanya cuma di hari ketiga Integrasi, di hari pertama otomatis saya gabut. Di hari kedua, saya ikut ngehandle sabuga, terutama di pintu utara dan selatan. Sempet marah-marah sih pas sore-sore, karena udah capek dan acaranya sempet ngaret karena beberapa hal. Tapi sisi positifnya, mobilisasi lancar banget di bagian saya.
Di hari ketiga, sempet nonton senam LSS, yang isinya foto mantan dll. Habis itu baru mulai gawe di resimen 4, mulai positioning, dan koordinasi sama panlap yang ada disana. Sehabis jumatan juga resimen 4 kebagian buat bantuin mentoring keagamaan, buat pengondisian sama bagiin makanan buat peserta Integrasi.
Di hari keempat, otomatis kami gabut, dan saya lebih milih buat jalan-jalan dan perpisahan resimen 4 di Upnormal Ciwalk.
Foto full-team Resimen 4 - Day 3 Integrasi ITB 2016


ASSISTS BIST League 2016
Di jurusan STI sendiri, ada sebuah lomba Case Competition internal STI yang dilaksanakan setiap tahun. BIST League itu sendiri baru memasuki penyelenggaraan yang kedua. BIST League Season 1 dimenangin sama tim Huntul ASSISTS Mania (timnya kak Huntul STI'13).
Di BIST League 2 ini, saya setim sama kating semua, kak Ica STI'14 dan kak Prav STI'14. Babak penyisihannya, semua peserta harus bikin solusi IT-Based buat permasalahan bisnisnya TOEX, sebuah perusahaan di bidang pet grooming yang kesulitan menembus pasar Amerika, karena orang Amerika lebih suka produk lokal mereka. Sempet kesulitan bikin solusi, dan sempet mentoring sama mentor kita yang kece, kak Wahid STI'12.
Nah, di hari deadline submission, kita belum bikin narasi sama sekali, dan kondisinya sedang Arkavidia, ada yang jadi sekdiv, dan saya sendiri nge-mc di Arkav. Terpaksalah saya baru bikin narasi jam 10 malem (setelah selesai gala dinner Arkav), dan baru submit di akhir-akhir banget. Eh taunya lolos.
Buat final, kita kira disuruh presentasiin case yang TOEX, taunya ada case baru. Case baru ini ngebahas tentang perusahaan Airbus, dan disuruh buat ngasih solusi buat perusahaan Airbus itu sendiri. Waktunya cuma 24 jam. Kita baru ngerjain jam 7 malem di Eduplex Cafe, karena kesibukan masing-masing. Kita bahkan baru nemu ide penyelesaian jam 11 malem, dan langsung mulai bikin slide. Inti solusi kita adalah Airbus harus memanfaatkan BoostAerospace, sebagai Platform as a Service (PaaS) buat stock mereka. Sempet liat-liat catetan waktu saya daftar MSP (Microsoft Student Partner), soalnya di MSP dibahas tentang PaaS sebagai teknologi yang lagi berkembang saat ini.
Di hari-H saya tegang. Bingung mau ngomong apa. Ternyata pas pengumuman, alhamdulillah tim kami menang. Yeay! Semoga jadi pengalaman buat saya kedepannya buat menangin Business Case Competition kedepannya (minimal menangin L'Oreal Technovation sama PMC), dan bisa melangkah ke APEX 2-3 tahun lagi (Aamiin!).
3 besar BIST League 2016


Ngasprak!
Pengalaman terakhir di semester 3 yang bakal saya ceritain, pengalaman ngasprak. Sebagai asprak yang tukang modus baik hati, saya ngasprak di SBM (kelas reguler dan Internasional), dan SITH-S. Di post ini, lebih diceritain soal SBM Inter, soalnya suka duka saya disana :").
Di praktikum pertama, saya bersama kak Alicia dan kak Monik ngaspraknya, dan sempet ngusir 2 orang praktikan (duh maafkan aku). Banyak yang nggak bisa ngerjain, dan dipanggil terus-menerus. Sempet baper gara-gara banyak banget yang manggil.
Di praktikum berikutnya, mereka lebih baik, bahkan makin baik. Seenggaknya manggilnya gak barengan, dan nggak bikin baper lagi. Di praktikum terakhir, merasa sedih juga sih ga bakal ketemu mereka lagi, dan berharap semuanya lulus (btw, nilai mereka nggak ada yang bermasalah kecuali yang ga pernah masuk). Semoga mereka sukses terus, dan semoga bisa ketemu mereka lagi (soalnya rencana ngambil beberapa matkul Manajemen di semester 4-6 nanti).

Masih banyak lagi sih kehidupan saya di semester 3 ini yang mau saya tulis (di HMIF lah, TEC lah, Arkavidia lah, siaran lah), namun nampaknya cukup segini aja yang ditulis, karena kemageran saya untuk nulis.

Bye!

Jumat, 04 November 2016

Kasus Bug Pada Gojek

Bandung, 4 November 2016

Akhirnya gua kembali post setelah menjalani kesibukan yang cukup padat (kuliah - main - rapat - nugas - kuliah lagi - tidur - nonton), dan kebetulan dapet ide buat ngepost tentang topik ini, berhubung masih seger di otak gua.

Setelah 2 bulan nggak menggunakan aplikasi gojek karena trauma go-car yang ngaret 1 jam dan membuat gua dan salah seorang teman gua setia menunggu gocar yang tak kunjung datang dibawah hujannya kota Bandung, akhirnya gua order gojek lagi. 

Sebenernya kepaksa sih, karena di Bandung lagi rawan-rawannya begal, dan kebetulan baru pulang malem habis hearing cakahim HMIF, akhirnya kepaksalah ngeorder (soalnya lagi kere, mahal kalo pake uber).

Singkat cerita, gua ngorder go-ride di aplikasi go-jek. Teng teng! Dalam waktu kurang dari semenit (estimasi turun dari lantai 3 labtek V ke depan labtek V), gua sudah menemukan driver gua, katanya nyampe dalam 2 menit. Ini agak aneh loh, biasanya di Bandung nemuin driver itu butuh waktu 5-10 menitan sendiri.

Oke, akhirnya gua menuju ke gerbang depan buat nyari driver gojek yang kayaknya masih belum nyampe (udah bukan rahasia lagi sih, di Bandung waktu tunggu buat gojek paling lama, sekitar 15-20 menitan, lama banget kalo dibandingin sama Jakarta yang paling lama 7 menitan dan Jogja yang bisa ditunggu sambil beli kopi atau jalan dikit/ 5 menitan).

Setelah nunggu cukup lama, akhirnya gua menemukan driver gua (Yeay!), dan gua liat HP nya dia, ternyata ada tulisan nama gua dan alamat tujuan dari gua (yang pastinya rumah gua). Akhirnya gua naik motornya dia, dan pake helm seperti biasa. Namun pas gua naik, mas mas driver gojeknya bilang, kok nggak bisa diklik status lagi jalan (atau udah jemput guanya, apapun lah namanya). Nah gua kaget dong, jarang-jarang ada kayak gitu. Gua nyuruh drivernya buat close, terus open lagi aplikasi gojeknya (berasa asprak PTI yang ngasih tau ke praktikan cara yang entah darimana bisa bikin suatu program jalan).

Pas nungguin driver ngebuka ulang aplikasi, HP gua bunyi. Nomornya asing. Setelah diangkat, itu ternyata driver gojek yang mau jemput saya, katanya udah deket dari ITB. Kagetlah gua. Kok bisa kejadian begitu, dan di aplikasi gojek driver yang sedang gua naiki motornya masih ada data gua dan alamat gua. Karena udah malem, gua coba liat kebawah, takut kaki drivernya nggak napak (betapa begonya gua percaya cerita gituan). Ternyata masih napak. Berarti orang beneran dia.

Nah pas gua buka aplikasi gojek, ternyata nama drivernya ganti secara tiba-tiba. Wah kok bisa begini ya. Yasudah gua minta maaf ke driver gojek tersebut, karena mungkin ada kesalahan sistem sehingga bisa begini. Akhirnya, gua ketemu dengan driver yang aslinya dan pulang dengan selamat.

Yang gua sayangkan dari kejadian tersebut, adalah adanya bug dalam sistem gojek, yang notabene adalah leading startup di bidang jasa transportasi online, yang katanya nilai valuasinya mencapai 5 Triliun rupiah (bahkan ada yang bilang belasan triliun). Seenggaknya dengan dana yang didapat dari investor, bisa kan merekrut software developer dan tester yang handal dan bisa mencari dan memfixkan bug yang ada. Bayangkan kejadian tersebut terjadi pada beberapa user dalam waktu yang bersamaan, bisa-bisa gojek kehilangan kepercayaan dari user, soalnya user merasa "dilempar-lempar" buat dapet driver, padahal tujuan mereka cuma selamat sampai ke tujuan.

Adanya bug ini mengingatkan gua kepada beberapa isu bug yang ada di gojek dalam setahun kebelakang. Setelah adanya isu ketidakamanan data pengguna (kelemahan sistem keamanan), juga sempet booming kasus bocornya cara hack voucher code, biar selalu dapet tambahan credit (gak tau bener gak tau salah). Intinya, you have a serious problem.

Setelah ngepo-ngepoin (dan masuk soal ujian TI3005 - OMPI gua juga minggu kemaren), ada suatu permasalahan juga sih di gojek, dan nampaknya krusial. Gojek harus mencari pengganti dari VP IT yang baru saja mengundurkan diri, yaitu mbak Ala. Kenapa sih perlu dicari? Ada banyak permasalahan yang menyangkut IT di Gojek, sebagai salah satu startup berbasis IT, tentunya wajib up to date sama dunia IT dan permasalahannya juga, karena ya dunia IT itu dinamis banget, selalu berkembang tiap saat. Sehingga, kesalahan seperti itu bisa diminimalisir, dan masalah-masalah yang ada dulu maupun sekarang solved dan nggak akan terulang lagi di masa depan.

Akhir kata dari gua, semoga bug yang gua temui di aplikasi gojek dapat diperbaiki dengan segera, dan semoga permasalahan yang ada di gojek sekarang ini dapat diselesaikan sebaik mungkin

Senin, 01 Agustus 2016

Catatan Tahun Pertama di ITB

Halo semua, perkenalkan saya Muhammad Faisal Aziz, sekarang telah menjadi mahasiswa Sistem dan Teknologi Informasi ITB 2015. Di blog ini, saya akan membagikan beberapa kenangan saya selama SBMPTN dan tahun pertama di ITB. Semoga bisa menjadi motivasi buat pembaca, atau mungkin buat adik-adik yang mau masuk perguruan tinggi. Enjoy it :)

Dalam seri catatan tahun pertama ini, saya membuat beberapa catatan penting saja yang paling saya kenang. Tentunya kalo menyangkut perasaan pribadi (seperti baper, putus cinta, dan lainnya) tidak akan saya post disini, karena menyangkut kebaikan banyak orang. Berikut adalah list dari postingan catatan lama saya yang baru saya post.

Pengalaman Ikut Tes President University
Pengalaman Intensif dan Tes SBMPTN 2015
Pengumuman SBMPTN 2015
Masa Awal Masuk ITB
Review Semester 1 ITB (Mata Kuliah)
Yakin Nih Namanya Charity?
Review Semester 2 ITB (Mata Kuliah)
AMI 2016 Penuh Cinta
Pengalaman di TEC
Pengalaman Tertipu Berkedok Mengajar

Tentunya tulisan-tulisan saya ini jauh dari sempurna. Terutama dari segi bahasa saya yang sengaja nggak formal. Kalau ada kritik, saran, curhat, dan pertanyaan, bisa dikirim lewat comment, kalau merasa kepanjangan, kirim lewat email aja ke muhammadfaisalaziz@outlook.com. Saya akan bantu semaksimal yang saya bisa.

Akhir kata, terimakasih. Selamat membaca

Pengalaman Bekerja Sebagai Pengajar : Sebuah Pengalaman Pahit

Untuk seri terakhir dari pengalaman saya selama kuliah setahun ini, buat siapapun yang membaca, tolong jangan salah artikan judul yang saya buat. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saya selama mengajar saja :)

Saya dulunya sempat ikut OSN dan lomba-lomba di tingkat nasional. Dan mungkin, pengalaman itu yang bikin sebuah lembaga pelatihan olimpiade tertarik buat ngerekrut saya. Dalam kondisi seperti itu, saya bergabung. Ngga perlu sensor-sensoran deh, saya bukan KPI. Lembaga pelatihan Olimpiadenya bernama DERALL OLYMPIAD CENTER. Pimpinannya atau koordinatornya bernama Dicky Fardiana. Kalo nggak salah, alumni Astronomi ITB angkatan 2003 (pernah liat skripsinya), terus juga sempet kuliah di S2 Teknik Geofisika ITB (cuma dropout, sumbernya dari pangkalan data kemendikbud). Kalo gasalah waktu ngestalk, pernah di S2 Fisika UI cuma undur diri juga (kalo gasalah orang, soalnya namanya sama).

Singkat cerita, mengajarlah saya di SMAN 12 Bandung. Letaknya jauh loh dari rumah saya, sekitar 6 km an. Kena macet pula. Yaiyalah, kircon. Dari kampus juga jauh. Tapi deket dari TSM (ini kenapa selalu main ke TSM tiap sabtu). Saya ngajar disana tiap sabtu. 3 jam per minggu. Melihat penampilan Dicky yang sholeh, awalnya saya percaya. Kenapa nggak percaya, orang itikaf aja penuh di masjid. Dibandingin sama saya yang di akhir ramadhan malah menabung tidur. Awalnya juga dia bayarnya tepat waktu, baru pertemuan kedua aja udah dilunasin sampe pertemuan ketiga.

Tapi, makin kesini pembayaran dari dia makin telat aja. Dan saya sendiri nggak cuma ngajar SMAN 12 doang, tapi juga di SMAN 14 (yang ini sih deket dari rumah) tiap senin dan jumat sore. Nah untuk SMAN 12, dia baru bayar sampe bulan oktober akhir itu di bulan desember. Bahkan untuk SMAN 14 belum dia bayar sama sekali sampe detik ini. Padahal, dia selalu merintahin saya buat dateng kesana, bahkan disaat kelasnya gaada orang sama sekali. Terus aing ngajar siapa pak? Ngajarin rumput yang bergoyang kali ya.

Nah, puncak dari keonaran Dicky ini pas saya semester 2. Karena terjepit dengan beban yang diberikan sekolah-sekolah tersebut, dia memaksa kami bekerja di hari Senin dan Rabu juga. Ya kali pak, aing juga punya jadwal kuliah. Beberapa kali saya skip kuliah cuma buat ngajar doang. Dan hasilnya apa? Saya belum nerima pembayaran saya sampe sekarang. Disitu saya merasa sedih.

Dan sebelum OSK, saya baru tahu kalau saya seharusnya dibayar 2 kali lipat dibanding yang diterima oleh saya. Jadi yang saya terima itu udah dipotong setengahnya sama Dicky. Anjir malu aing punya senior yang kayak gini. Kelakuan sosoan alim, eh di tukang mah tukang ngambil hak batur. Hirup deui (Translate : Kelakuan kayak yang alim, tapi dibelakang suka ngambil hak orang lain. Hidup pula).

Di tengah kejengahan saya kepada Dicky, muncullah sebuah harapan. Saya punya nilai tawar. Murid yang saya ajar, lolos ke OSP. Sebuah kebahagiaan sendiri sih mengingat asalnya cuma dari SMAN 12 yang dianggap papan bawah, bahkan untuk sekelas SMAN 5 dan SMAN 2 ngga ada yang lolos di bidang Komputer (kalo soal ini saya sebagai alumni mohon maaf banget). Disana saya merasa agak bahagia juga sih, karena didikan saya berhasil lolos, meskipun udah saya gembleng secara ketat. Ya cara mengajar saya cukup keras sih, dan lebih ke pendekatan personal. Tapi dijamin rame dan ngerti.

Tapi ya tetep aja Dicky gamau bayar saya. Banyak sekali alasannya. Bahkan sampai detik ini, hak saya untuk hasil kerja keras saya di SMAN 14 belum dibayar olehnya serupiah pun. Dan untuk hasil kerja keras saya melatih sampai sebelum OSP di SMAN 12 juga belum dibayar lagi sejak Desember 2015 (dan tunggakannya dari bulan November). Padahal pembayaran dari sekolah sudah tuntas dan seharusnya sudah diserahkan ke saya sejak kapan. Ada juga teman saya yang ditipu disuruh ngajar di Jakarta, ternyata disana nggak ada kegiatan apa-apa. Bahkan kami sering dimarah-marahi oleh dia karena menuntut hak kami. APA YANG SALAH SIH DARI MENUNTUT HAK?

Ternyata setelah sharing sama mantan pengajar tahun-tahun sebelumnya, memang Dicky atau Derall ini selalu bermasalah. Tidak pernah membayar gaji pengajarnya. Bahkan dari pengajar tahun 2010-2011 pun masih banyak yang belum dibayar sama sekali gajinya. Memang itu sempat membuat saya stress dan jatuh sakit, sehingga 3 hari nggak masuk kuliah karena sakit (pernah maksain di hari selasa tapi malah sakit dan muntah-muntah di WC GKU Timur) sehingga ujungnya jadi nggak masuk juga. Dan satu hal yang saya pelajari, jangan mau bekerjasama dengan seseorang, hanya karena dia lulusan PTN X atau karena kelakuannya yang cukup sholeh. Karena Dicky juga sholeh, bacaan Qurannya bagus, terus juga pernah jadi imam tarawih, tapi kelakuannya bejat dan korup seperti itu.

Dan sampai saat ini, chat saya sejak tanggal 28 April 2016 belum diread oleh Dicky Fardiana, dan sampai sekarang dia terus berjanji yang tidak pernah ditepati. Semoga kelak dia akan mendapat balasan yang setimpal atas perbuatannya. Mungkin nggak sekarang, tapi nanti.

Mengingat hal tersebut, karena Dicky katanya "Religius", seharusnya dia paham akan hadist ini
Ada tiga golongan orang yang kelak pada hari kiamat akan menjadi musuhku. Barangsiapa menjadi musuhku maka aku memusuhinya. Pertama, seorang yang berjanji setia kepadaku lalu dia ingkar (berkhianat). Kedua, seorang yang menjual orang lalu memakan uang harga penjualannya. Ketiga, seorang yang mengkaryakan (memperkerjakan) seorang buruh tapi setelah menyelesaikan pekerjaannya orang tersebut tidak memberinya upah. (HR. Ibnu Majah)

Semoga dia segera menyadari kesalahannya, atau dia akan dapat balasannya. Baik dari saya pribadi, atau mungkin dari orang lain. Buat para pembaca, hindarilah seorang bernama Dicky Fardiana, atau lembaga bernama Derall Olympiad Center atau anda akan bernasib seperti saya, atau teman-teman saya.

Pengalaman di Unit TEC-ITB : USB, Jualan, dan TEC Academy

Setelah membahas apa saja yang dilakukan saya selama menjadi panitia AMI, saya juga akan membahas mengenai pengalaman saya di TEC ITB.

Awalnya saya ikut TEC ITB, bareng Andra waktu itu. Pertama kali ikut pertemuan, katanya kaderisasinya bakal dikasih ke pihak ketiga, yaitu USB, saya sendiri lupa kepanjangannya apa. Kalo ngga salah sih University of Life, Successful Lifestyle, Business School. Nama yang kepanjangan buat sebuah lembaga. Karena link referensi saya sudah saya lupa (karena hp rusak jadi savean kedelete juga), dan di google adanya para pemuja siswanya Pak Victor (Pendiri USB), jadi saya gunakan bahasa saya sendiri deh.

Pertemuan pertama diadain di Azalea Room BTC Mall. Lantai paling atas. Ruangan paling adem, AC nya banyak. Saya aja kedinginan karena lupa bawa jaket. Terus toilet deket sana bagus banget, standar hotel lah, gausah bandingin sama WC di ITB, weker (WC Kering) Smunda aja kalah kalo dibandingin sama ginian. Kesan pertama bagus, jadi ya apa salahnya ikut dulu lah. Terus disuruh beli buku "8 Langkah Ajaib Menuju Ke Langit" karyanya Pak Victor Asih. Okelah gua beli. Terus isi formulir wawancara, lebih ke pendaftaran juga sih.

Pertemuan berikutnya di perpus ITB lantai 4, mulailah kekecewaan saya. Kok materi yang disajikan lebih kayak ngebahas isi buku sama pengalaman pak Victor. Bukan ke arah materi yang core atau essential dari bisnis itu sendiri. Kalo masalah numbuhin motivasi, saya percaya sih nyari motivasi bisa dari mana aja. Pertemuan selanjutnya juga sama, ngebahas isi buku lagi. Kali ini deadline tugas yang visualisasi impian sama pembayaran 150 rb. Karena Andra udah transfer ke saya, mau ga mau berangkat ke sana. Nah di akhir sesi ini ngebahas tentang project 1, katanya suruh jual bukunya Pak Victor, ditarget minimal 3 buku biar bisa lolos atau bertahan, atau 5% dari yang paling banyak jual. Nugelo maneh, aing macana ge haroream, dititah ngajual 3 ka batur (Translate : Gila aja lu, gua aja bacanya males. Apalagi disuruh ngejual 3 ke orang lain). Dan saya mulai membaca buku Pak Victor, yang layout sampulnya standar banget kalo gamau dibilang jelek. Yang saya heran, masa menteri sama pak SBY katanya baca yang ginian? Bukan underestimate ya, dari cover aja udah pas-pasan, terus juga isinya biasa banget. Lebih kayak autobiografi. Kecuali bagian 2 yang menurutku juga pas-pasan banget. Agak ragu saya bukunya pernah dibaca tokoh-tokoh yang sering disebut di dalam seminarnya.

Oke, tugas 1, SKIP. GA JUAL SAMA SEKALI WKWKWK. Kalo Andra sendiri jual 3, 1 buat bokapnya, 2 nya lagi dipesen sama temen nyokapnya. Nah saya melakukan prinsip saya, karena jatah maksimal 3 bolos, yaudah saya bolos 3 kali dulu. Di pertemuan berikutnya saya telat parah. Karena katanya di BTC, taunya ngga. Saya kesana disana gaada siapa-siapa. Kesel? Jelas. Terus dari orang USB yang disana juga kayak ngga ngasih solusi gitu. Mana macet pula di pasteur. Akhirnya nyampe ke ITB lagi jam 4.50. Udah mau kelar. Absen dikit, ternyata lagi ada penjelasan project berikutnya yaitu jual nanospray, sama pembalut dll. Eh tunggu, PEMBALUT? Gasalah denger nih aing? Keluar dari seminar saya dan Andra menyindir jualan pembalut. Ya kali aing nawarin pembalut buat pacar aing (waktu itu). Ya kali euy. Ya kali.

Pulang dari kampus, seperti biasa karena malam minggu saya skype-an sama doi tercinta (sekarang jadi mantan sih, ngga tercinta lagi kan). Nah saya candain aja tuh, sekalian sambil curhat disuruh jual nanospray. Terus candain sosoan jual pembalut. Untungnya doi ga marah, malah bilang kalo itu MLM, dan ngga baik. Di bagian ini aing tersentuh banget, dan memutuskan untuk keluar dari USB, apapun konsekuensinya di TEC, entah aing ga dilantik lah dsb. Dan untuk mantan aing, aing suka gaya maneh, cuma sekarang ga suka aja.

Dan beberapa hari setelahnya, saya dan Andra dipanggil oleh para petinggi TEC. Disana dijelaskan bahwa mereka sudah tidak bekerjasama lagi dengan USB, dan penilaian dari USB tidak memengaruhi penilaian TEC. Jadi, silahkan ikut ujian USB, boleh iya atau ga ikut juga gapapa. Alasan lainnya karena takut USB menuju ke arah MLM. Yaa ternyata bener juga sih. Dan akhirnya ketika UAS versi USB, saya dan Andra ga ikutan ujian, malah makan-makan di nasgor mafia sampe kepedesan. Dan ternyata yang ikut UAS USB cuma dikitan.

Besoknya, ternyata ada project jualan. Jualannya bebas, asalkan bisa balikin uang yang ada. Nah karena saya ngga ikutan (saya telat karena sakit), saya ga sengaja ketemu Andra di monju. Waktu itu dia jualan teh. Dan ternyata dia jualan teh yang suka ada di masjid salman. Okd Dra, nice. Akhirnya saya bantuin Andra dan kak Intan (kakak kelas saya waktu SMA dulu) jualan di sekitar monumen perjuangan. Dan banyak banget yang beli di taman gesit. Thanks banget ibu-ibu yang rekomendasiin ngasih kesana.

Minggu depannya barulah saya jualan juga. Jualan Aqua. Kasih harga 5000 an sebotolnya, juga jualan oreo kasih 2000 an satunya. Alhamdulillah laku dan untung 170 rb-an. Selama jualan ini, saya juga dibantu sama Andra buat jualannya.

Setelah masuk TEC, saya ikutan TEC Academy. Lebih ke ngebahas gimana bikin startup dan sebagainya. Namun sampe sekarang, belum ada pertemuan lagi, kayaknya karena pematerinya masih kurang banyak.

Sekian pengalaman dari saya. Kalo ada pengalaman baru pasti saya edit disini kok.